Niat pengabdian tulus dan rasa tanggung jawab tinggi, merupakan bekal rahman (38 thn), dalam mengembang tugas sebagai guru sekolah dasar (SD) di daerah terpencil dikota Palopo. Dia rela menapaki bukit dan menyeberangi sungai setiap harinya demi harapan mencerdaskan anak bangsa.
Di pagi buta seusai melaksanakan salat shubuh, rahman dengan jungle bootnya siap beranjak ke tempatnya mengajar di SDN 67 Tadung, kelurshsn Peta Kecamatan Sedana dari rumahnya kawasan Sampoddo. Dengan jarak tempuh 9 KM, rahman menggunakan kayu sebagai penopang untuk mendaki kawasan perbukitan dengan berjalan kaki.
Hampir setiap hari, sebelum berangkat kerja tak lupa rahman menghampiri empat anaknya yang masih tertidur pulas. Di benaknya, muncul segunung harapan masa depan anak-anaknya itu bisa lebih baik dari dirinya.
Meski lelah, Rahman tetap memperlihatkan senyum kebahagian di balik wajahnya yang sedikit kusam. Inilah sosok Oemar Bakri yang bekerja tanpa pamrih ini. Rahman sangat menyadari betapa pentingnyapendidikan bagi anak-anak usia dini. Tak heran, meski harus menyebrangi sungai, menyusuri jalan yang kecil, dan mendaki gunung sejauh 9 KM rahman tidak pernah mengeluh betapa sulitnya kehidupan di daerah terpencil.
Perjalanan karier rahman , mungkin tak sebanding dengan komitmennya untuk mencerdaskan generasi bangsa ini. Sejak terangkat sebagai PNS pada 2006 lalu, rahman langsung di tempatkan ditempatkan dikawasan terpencil di
Hampir setiap hari Rahman melalui perbukitan menuju ketempat mengajarnya, sejak ditugaskan du tahun lalu sebagai guru agama di SDN 67 Tadung, dari dulu hingga sekarang jalan yang dilalui tidak pernah tersentuh pembangunan, malah makin mengkhawatirkan. Yang menyedihkan adalah nasib 100 kepala keluarga (KK) warga di Tadung, mereka merasa di anaktirikan di
Dia berharap agar Pemkot Palopo memberi perhatian khusus pada warga Tandung yang berjuang mengarungi kerasnya kehidupan. Selain rahman masih ada enam tenaga pengajr yang setiap hari harus berjalan kaki untuk berbagi ilmu pelajaran kepada 48 murid di SDN 67 Tadung.

0 Responses to "Kisah Rahman : Guru yang Mengabdi Didaerah Terpencil"
Posting Komentar