Setelah aku membaca koran harian Fajar edisi Kamis 18 Desember 2008. aku tertarik untuk mengangkat kisah ini sebagai tulisan saya. Zulkarnaim S.Pd namanya, lelaki kelahiran Makassar 29 Juli 1972 ini mengawali kariernya sebagai tenaga pendidik ditempatkan di daerah paling ujung di Maluku Utara. morotai nama pulau itu. secara historis pulau itu merupakan pangkalan Amerika Serikat saat perang dunia kedua pecah. untuk mencapai pulau itu ditempuh dengan medan berat. perjalanan melalui laut menempuh perjalanan dengan waktu tempuh 4 malam sisanya selama 13 jam menggunakan perahu kecil dengan kondisi ombak yang keras.
di morotai ia tinggal diperumahan sekolah. satu ruangan berukuran 4x4 meter. berfungsi ganda yaitu sebagai ruang tidur plus ruang tamu. tak ada aliran listrik apalagi kebutuhan informasi. ia memperoleh gaji Rp. 200 ribu setiap bulan. jumlah yang cukup besar saat itu. ada juga tunjangan pengabdian daerah terpencil Rp. 125 ribu setiap bulan dan gaji pertamanya ialah Rp. 102.000.
untuk memperoleh air bersih, harus berjalan kaki sejauh 500 meter. punya sumur meski kedalamanya mencapai 30 meter di pulau itu sudah merupakan kekayaan yang membanggakan.
itulah mungkin sepenggal cerita tentang bagaimana kondisi tempat mengajar bagi guru yang bernama Zulkarnaim dan zulkarnaim-zulkarnaim yang lainnya yang terdapat atau mengajar di daerah itu.
apakah pantas jika kita melihat kondisi tadi seorang guru yang mengabdi dikota dengan berbagai macam fasilitas dengan guru yang mengabdi di daerah terpencil harus disamakan gaji mereka. jika anda membaca sekelumit kisah diatas tadi apakah pantas mereka dikatakan sebagai Pahlawan sejati, kalau menurut aku merekalah Pahlawan Tanpa tanda Jasa yang mesti diberi penghargaan karena mau hidup susah jauh dari kampung halaman. bukan mereka para guru yang mengabdi dikota yang memperoleh berbagai penghargaan.
di morotai ia tinggal diperumahan sekolah. satu ruangan berukuran 4x4 meter. berfungsi ganda yaitu sebagai ruang tidur plus ruang tamu. tak ada aliran listrik apalagi kebutuhan informasi. ia memperoleh gaji Rp. 200 ribu setiap bulan. jumlah yang cukup besar saat itu. ada juga tunjangan pengabdian daerah terpencil Rp. 125 ribu setiap bulan dan gaji pertamanya ialah Rp. 102.000.
untuk memperoleh air bersih, harus berjalan kaki sejauh 500 meter. punya sumur meski kedalamanya mencapai 30 meter di pulau itu sudah merupakan kekayaan yang membanggakan.
itulah mungkin sepenggal cerita tentang bagaimana kondisi tempat mengajar bagi guru yang bernama Zulkarnaim dan zulkarnaim-zulkarnaim yang lainnya yang terdapat atau mengajar di daerah itu.
apakah pantas jika kita melihat kondisi tadi seorang guru yang mengabdi dikota dengan berbagai macam fasilitas dengan guru yang mengabdi di daerah terpencil harus disamakan gaji mereka. jika anda membaca sekelumit kisah diatas tadi apakah pantas mereka dikatakan sebagai Pahlawan sejati, kalau menurut aku merekalah Pahlawan Tanpa tanda Jasa yang mesti diberi penghargaan karena mau hidup susah jauh dari kampung halaman. bukan mereka para guru yang mengabdi dikota yang memperoleh berbagai penghargaan.

0 Responses to "Zulkarnaim : Gaji Pertama Senilai Rp. 120 Ribu."
Posting Komentar